Bangunlah Pers Mahasiswa !

Di era reformasi sekarang ini pers mahasiswa (Persma) terasa kurang terdengar gaungnya. Ketika kebebasan informasi sudah menjadi milik kita semua dan media massa (baru) tumbuh subur, kondisi Persma justru nyaris tenggelam. Kondisi ini bermula sejak tahun 1998, ketika reformasi dikumandangkan Persma menjadi kehilangan perannya. Peran kontrol sosial melalui pemberitaan yang tajam, kritis dan independen. Peran itu telah kembali dipegang oleh pers umum yang di masa Orde Baru dipresentasikan oleh Persma.

Pada era 1970-an Persma pernah mengalami masa keemasannya. Harian KAMI, Mahasiswa Indonesia dan Mimbar Demokrasi merupakan penerbitan mahasiswa (istilah resmi pers mahasiswa kala itu) yang mampu eksis pada tahun 1970-an. Dengan oplah sekitar 30-70 ribu eksemplar –setiap kali penerbitannya, tak hanya diminati oleh mahasiswa saja. Masyarakat umum pun menjadi pembacanya. Persma pada era itu mampu menjawab tantangan zaman secara baik. Bahkan informasi yang disajikan pada saat itu lebih baik dari pers umum.

Kini, yang ada hanya tinggal kenangan manis. Kondisi Persma sekarang cukup memprihatinkan. Persma hadir dikomunitasnya sekedar memenuhi jadwal penerbitan yang dibuat menurut logika birokratis-paradigmatik sebuah unit kegiatan mahasiswa. Penerbitan itupun muncul bukan atas kesadaran penuh atau kebutuhan menyalurkan idealisme tapi ‘tuntutan rutinitas’ agar legitimasi sebagai bagian dari kegiatan mahasiswa di kampus tetap terjaga (Masduki, 2003).

Terbitan Persma kurang dimanfaatkan sebagai sarana aktualisasi idealisme mahasiswa. Pada akhirnya produk yang dihasilkan oleh Persma –baik dalam bentuk majalah, tabloid maupun newsletter– menjadi kehilangan rohnya. Produknya menjadi tidak menarik dan kurang mampu memenuhi apa yang diinginkan oleh pembacanya (baca: mahasiswa). Sehingga tak jarang Persma kurang dikenal di lingkungan kampusnya sendiri.

Persoalan Klasik
Meredupnya eksistensi Persma sekarang ini disebabkan oleh berbagai persoalan. Persoalan yang selalu melilit hampir sama dimanapun Persma itu berada. Kondisinyapun tak jauh berbeda, kebanyakan Persma tak mampu keluar dari persoalan klasik yang ada. Persma terjebak pada persoalan yang secara teoritis sebenarnya mampu dihadapi, namun pada tataran praktis sulit untuk diselesaikannya. Setidaknya ada tiga persoalan klasik itu diantaranya: lemahnya kaderisasi, periodisasi terbitan yang tidak tetap dan kebijakan rektorat.

Sistem kaderisasi yang dimiliki oleh Persma biasanya tidak matang. Persma tidak mampu menjaga kelangsungan hidupnya dengan menyediakan kader-kader penerusnya. Persma lebih mengandalkan sosok yang sudah ‘jadi’ untuk mengelolanya. Sistem kaderisasi yang ada tidak mampu memenuhi kebutuhan Persma. Tak jarang pada periode tertentu Persma mampu sedikit berkembang, namun pada periode berikutnya dengan segera tenggelam kembali. Ini terjadi karena kualitas sumber daya pengelola yang ada jauh berbeda dalam setiap periodenya.

Kebanyakan Persma tidak memiliki periodisasi terbitan yang tetap. Terlambat deadline, seakan telah menjadi budaya bagi terbitan Persma sekarang. Sehingga tak jarang ketika terbitan sampai di tangan pembaca, infomasi yang disampaikan telah basi dan tidak aktual lagi. Hal ini menyebabkan pembaca enggan melirik pada informasi yang disajikan oleh Persma. Mahasiswa lebih tertarik pada informasi yang disajikan oleh pers umum.

Bagi Persma yang sumber dana utamanya berasal dari rektorat, ada kecenderungan Persma tersebut tidak dapat bergerak dengan bebas. Persma menjadi tidak kritis terhadap rektorat. Bahkan Persma sering dijadikan sebagai corongnya rektorat. Informasi yang disajikan oleh Persma hampir dipastikan akan sejalan dengan kebijakan rektorat. Dan untuk menjaga kelangsungan hidupnya Persma lebih memilih menuruti kemauan rektorat. Rektorat melalui kebijakannya mampu mengontrol arah pemberitaan Persma.

Menghadapi kondisi semacam ini, Persma harus tanggap dan segera mencari solusinya. Pertama, untuk tetap menjaga kelangsungan hidup Persma maka optimalkan peranan divisi kaderisasi. Rumuskan dengan jelas pola kaderisasi yang akan diterapkan. Divisi kaderisasi harus mampu melakukan perekruitan pengelola baru dengan baik. Upayakan ada sistem magang sebelum menjadi pengelola Persma.

Kedua, Untuk meminimalisasi budaya terlambat deadline, pimpinan Persma harus dapat bertindak dengan tegas. Kuatkan kembali komitmen seluruh pengelola Persma yang ada. Reward and punishment harus diberikan pada pengelola Persma. Untuk memacu kinerja, berikan reward bagi pengelola yang melaksanakan kewajibannya dengan baik. Punishment –berupa peringatan lisan, peringatan tertulis bahkan pemecatan– harus diberikan pada pengelola yang tidak mampu melaksanakan tugasnya. Ketegasan aturan yang ada sangat diperlukan guna meningkatkan kedisiplinan di dalam tubuh Persma itu sendiri.

Ketiga, kebijakan rektorat sebenarnya tak hanya menjadi kendala bagi Persma yang sumber dana utamanya dari rektorat, namun juga bagi hampir semua Persma. Rektorat menjadi bayang-bayang dalam setiap pemberiatan Persma. Untuk menghadapi kondisi semacam ini Persma tak perlu takut. Sistem pemberitaan Persma harus tetap independen dan seimbang. Prinsip check and balance harus tetap dikedepankan.

Sudah saatnya, kini Persma bangun dari ‘tidurnya’. Uraikan benang kusut yang melilit di tubuh Persma. Selesaikan permasalahan yang menjadi hambatan untuk berkembangnya Persma. Persma kini dituntut untuk membenahi jati dirinya kembali dan tak boleh terbuai dengan romantisme kejayaan di masa lalu. Segala kejayaan Persma dimasa lalu hendaknya dijadikan sebagai semangat untuk dapat bangkit kembali, bersama membangun eksistensi Persma.

Tak dapat dipungkiri bahwa kini Persma sangat sulit untuk kembali mendapatkan perannya seperti di era Orde Baru. Persma harus segera melakukan reposisi dan reorientasi diri. Persma sebagai media kampus masih tetap bisa melakukan peran yang mungkin belum terjamah oleh pers umum. Peran kontrol sosial dalam lingkungan kampus setidaknya harus mulai diperankan oleh Persma. Persma harus mampu menunjukkan kepedualiannya pada lingkungan kampus dengan bersikap kritis terhadap segala kebijakan rektorat.

Bermula dari kampus, eksistensi Persma harus mulai dikembangkan kembali. Bukan suatu hal yang mustahil, masa keemasan Persma akan dapat diraih kembali. Berusaha dan berjuanglah pers mahasiswa! *

~ by isdiyanto on 4 March 2008.

17 Responses to “Bangunlah Pers Mahasiswa !”

  1. info beasiswa bisa dilihat di http://scholarroom.blogspot.com/

  2. dapatkan info beasiswa dan loker di http://scholarroom.blogspot.com/

  3. seperti mahasiswa universitar2 di jambi yang gaungnya kurang terdengar lagi, mereka vacum buat mengkritik pemerintah di jambi yang hampir semua pejabatnya terlibat kasus korupsi.

  4. sukses terus pokoknya! salam kenal nan hangat yaaa, thx udah mampir ke blogku

  5. iya ya… cuman memposisikan dirinya itu gmn ya… klo dulu (konon) emang karena media2 massa sdh ‘dikendalikan’ jadinya pers mahasiswa bisa jadi alternatif.cuman sekarang koran2 lain juga mulai mendapatkan kebebasannya… penasaran juga nih

    btw salam kenal🙂

  6. persma ITB juga dah mampus tuh…dah ga liat lagi terbitannya…

  7. persma ya persma, terbitannya berkala…kala-kala terbit kala-kala tidak (khas sindiran kala menjadi anggora persma dulu he..),…bagiku persma mesti menjadi tetap kritis-progresif, mesti memihak dan empati pada yang tertindas, eit..tunggu dulu, persma itu gak sekadar UKM yang menerbitkan majalah, tabloid, atau apa lah namanya di kampus itu, yang dananya dari rektorat, bagi saya persma adalah di mana pun ia, termasuk di masyarakat luar kampus sekalipun, ia membuat media dan menjalankan fungsi pers dengan aktor dan idealisme kritis khas mahasiswa….he..

  8. yang saya rasakan tidak demikian. kaderisasi di LPM EDUKASI IAIN WS, tempat saya beraktualisasi masih tetap berjalan. diskusi2 diadakan, mas Prasetyo Utomo yang tinggal di Semarang didatangkan, kepenulisan dievaluasi, ada jenjang2 tertentu yang itu disesuaikan dengan kapabilitas dan keinginginannya. ada sastra, politik, dan kependidikan.
    jika yang dikritisi adalah dana, maka itu bisa dengan mudah diselesaikan. sebab dana dari mahasiswa. di tempat saya setiap mahasiswa membayar 16 ribu tiap semester. dengan uang segitu mereka mendapat JURNAL, 2 MAJALAH, buletin dan news letter yang terbit sebulan sekali. disamping rutinitas itu juga ada buletin insiddental yang membahas masalah paling aktual kampus seperti pemira yang sekarang berganti musmaju.
    jika menuntut protgressif dan apa itu sejenisnya, sama, sua pergerakan juga demikian saya rasa. pergerakan mahasiswa saya lihat hanya ajang terjun dan belajar berpolitik praktis. bahkan mereka cenderung mempertahankan status quo.
    itu dari saya dan dari apa yang saya rasakan. secara, anak2 LPM juga harus berjuang melawan kepentingannya sendiri. artinya banyak kegiatan2 yang menurut saya juga penting tapi dikorbankan untuk menerbitkan media LPMnya. jika keadaan di tempat lain berbeda, wallahua’lam bisshowab

  9. Mungkin manajemen yang perlu dibenahi untuk menyelesaikan persoalan klasik tersebut… padahal itu merupakan wadah idealisme mahasiswa. mungkin ada donatur2 yang punya visi untuk memajukan persma tersebut, agar mampu keluar dari permasalahan klasik. salam..

  10. bukan maksud ingin beromantika, saudara-saudara…., tapin apakah mungkin jika kita mulai lagi sebuah forum untuk kembali membangkitkan pers mahasiswa? kita kita tidak berusaha mengorganisasi kekuatan kita? kenapa “masih” mahasiswa saja kita seringkali dihinggapi penyakit “feodalisme” kelas budaya? mohon maaf saudara-saudara….., kalau masih ada kesempatan dan semangat, kami menanti kita bergabung bersama-sama….. “AND BAD MISTAKES WE’VE MADE OF FEW…..” please, visit this friendster: funny_friezky@yahoo.co.id

  11. […] RESOURCE :SIMPANGLIMA […]

  12. hidup PERSMA!

  13. @ zaki
    sejak agustus 2007,persma itb udah 4x nerbitin koran. Koran kita namanya ganeca post🙂.bulan ini insya allah mau terbit lagi. Beli ya.. (Hehehe.. Promosi!)
    Yg gw rasain selama 2 tahun ini,masalah paling krusial apa lagi kalau bukan dana. Gambaran kasar aja,buat 1x terbit koran sebanyak 300 eksemplar aja yg cuma 12 halaman A3 biayanya 700 ribu! Hampir semua unit di itb (cmiiw),gak dapet uang dari rektorat. Jadi mesti berjibaku sendiri. Iklan pun kurang bisa diandalkan coz dianggap kurang berprospek. Alumni persma itb pun cuma beberapa orang karena kami baru berdiri tahun 2001. Jadi belum punya alumni yg mapan. Kaderisasi buat mahasiswa baru juga susah.. Sejak di itb mulai pakai sistem fakultas (tahun pertama belum punya jurusan), kebanyakan jadi banyak yg gak mau ikut unit coz mau ngejar spy bisa dpt jurusan favorit di fakultasnya.Yg udah tingkat 2 n 3 juga kerepotan sama kuliah,tugas, plus praktikum yg semakin ‘heboh’.apalagi sekarang br ganti kurikulum.bbrapa Ya.. Emang sih,seleksi alam berlaku dimana-mana🙂. Tapi gw percaya persma pasti bisa tetep eksis. Semua pemerintahan butuh evaluator, dan disitu peran kita dibutuhkan🙂. Sori kalau kedengeran sotil.. Hehehe..
    Regards,
    Liza,persma itb

  14. ayoo hidupkan lagi pers mahasiswa yang semakin redup, mari gaungkan lagi…kami dari pers mahasiswa Bina Sarana Informatika Jakarta…
    http://www.inspirasionline.com
    Forum.Inspirasionline.com

  15. salam persma…
    kunjungi websebx kami http://www.sumberpost.com
    alamat redaksi : jln. Syech Abdul Rauf. Gedung Koperasi Lantai II, IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh 23116

  16. sedang di usahakan…
    karena kembali dari nol tantangan terberat
    menggaungkan pers mahasiswa di tanah pertiwi..

  17. silakan berkunjung ke http://lpmhayamwuruk.com. blog bisa menjadi tempat berlatih menulis untuk teman2 persma…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: