Sejatinya (tak) Mudah Mendirikan Parpol

Seakan sudah menjadi hal yang lumrah dalam percaturan politik di Indonesia, manakala terjadi konflik dalam tubuh suatu Partai Politik (Parpol) maka seringkali jalan yang ditempuh adalah dengan mendirikan Parpol baru sebagai wadah penyalur aspirasinya yang tidak bisa tersalurkan di Parpol lama-nya. Hal yang sama juga bisa terjadi pada Parpol ‘sempalan’, manakala terjadi konflik internal maka mendirikan Parpol baru dijadikan sebagai solusinya.

Sehingga terlihat betapa mudahnya untuk mendirikan sebuah Parpol di negeri ini. Sejumlah elit yang memiliki kesamaan visi dan misi untuk turut berpartisipasi dalam perpolitikan di negeri ini bisa dengan mudah membentuk Parpol. Ketika Parpol sudah terbentuk dari ‘atas’, sejumlah anggota pun segera direkrut untuk melengkapi salah satu persyaratan mendirikan Parpol tersebut.

Namun dibalik itu semua, ada suatu pertanyaan besar yang menghampiri, akankah Parpol yang demikian mendapatkan simpati dan dukungan dari masyarakat luas? Hanya masyarakat yang mampu menjawabnya. Sejatinya Parpol yang dijadikan sebagai wadah penyalur aspirasi masyarakat terbentuk dari arus bawah. Adanya kesamaan visi dan misi yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat seharusnya menjadi modal utama untuk mendirikan sebuah Parpol . Aspirasi masyarakat yang demikianlah yang kemudian ditangkap oleh sejumlah elit untuk memberikan wadah bagi masyarakat tersebut.

Parpol yang didirikan dari ‘bawah’ akan dengan cepat melekat di tengah masyarakat dan mudah mendapatkan simpati dan dukungan dari masyarakat luas, karena mereka akan merasa memiliki Parpol tersebut. Parpol yang senantiasa mengerti dan akan memperjuangkan aspirasinya.

Kalau hanya sebatas untuk mendirikan sebuah Parpol sejatinya mudah-mudah saja untuk dilakukan. Namun untuk mendirikan sebuah Parpol yang mampu mengerti dan menampung segala aspirasi yang berkembang di tengah masyarakat sejatinya tak mudah, karena membutuhkan proses yang cukup panjang dan butuh waktu yang tidak sebentar. *

~ by isdiyanto on 21 May 2008.

4 Responses to “Sejatinya (tak) Mudah Mendirikan Parpol”

  1. Memang seharusnya, parpol bisa menjadi tampungan setiap aspirasi rayat, sekaligus sebagai perantara atau penyambung suara rakyat. Tapi, aku kurang tahu dengan di Indonesia ini,prihatin banget.

  2. gak usyah ada parpol…..bubarrrrrrrrrrrrrrrrrr đŸ˜ˆ

  3. Untuk parpol baru, minimal ada pengurus dan anggota atau kader yang loyal, kalo punya grassroot dari organisasi massa lebih menguntungkan, lebihnya bikin program ini itu untuk menggaet massa mengambang, syukur-syukur para golput bisa tertarik…hehehe

  4. […] akan bubar dan para pengurusnya akan berpindah ke partai politik yang lain atau berganti nama dan mendirikan partai politik yang baru, seolah-olah bagi mereka partai politik tidak berbeda banyak dengan warteg/angkringan yang bisa […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: