Hanya Siap Menang, Tak Siap Kalah

Sudah merupakan hal yang lumrah, bahwa setiap sebuah kompetisi digelar pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Termasuk kompetisi dalam sebuah pemilihan kepala daerah baik tingkat provinsi maupun kabupaten/ kota. Sudah barang tentu ada yang menang terpilih menjadi gubernur, bupati/ walikota dan ada yang kalah.

Yang menang tak boleh sombong dan yang kalah tak perlu curiga terhadap yang menang. Namun tak jarang setiap pemilihan kepala daerah baik tingkat provinsi maupun kabupaten/ kota di negeri ini digelar, pasca penetapan calon terpilih muncul suara ketidakpuasan atau lebih tepatnya ketidaksiapan dari yang kalah atas kekalahannya.

tanganMeski sebelumnya sering didahului dengan kesepakatan bersama, untuk siap menang dan siap kalah, namun yang banyak terjadi adalah mereka hanya siap untuk menang namun tak memiliki mental untuk siap menerima kekalahan. Sehingga apabila kalah berusaha mencari-cari kelemahan atau kecurangan dari yang menang.

Proses pemilihan presiden Amerika Serikat yang baru saja usai digelar 4 November yang lalu, setidaknya patut menjadi contoh bagi proses pemilihan kepala daerah maupun pemilihan presiden di negeri ini. Barack Obama yang ditetapkan sebagai pemenang menyambut positif kemenangan atas dirinya, pun demikian dengan John McCain yang kurang mendapatkan dukungan dari pemilih, langsung menyampaikan ucapan selamat kepada Obama dan menerima kekalahan dirinya.

Lahirnya beberapa partai politik (Parpol) baru juga tak sedikit yang karena tidak bisa menerima kekalahan pada perebutan pucuk pimpinan Parpol. Karena tidak memiliki mental yang cukup kuat untuk menerima kekalahan sehingga kemudian lahirlah Parpol baru sebagai sempalannya. Dengan beragam alasan tentunya, yang pada muaranya sebenarnya berbalik pada hanya siap menang, tak siap kalah.

Memang dibutuhkan sifat kearifan tersendiri untuk bisa menerima suatu kekalahan dalam sebuah kometisi, namun demi kepentingan yang lebih luas hendaknya yang kalah juga lebih legowo untuk menerima kekalahannya. Dengan mengakui dan menerima kekalahan maka akan jauh lebih ksatria daripada mencari-cari kesalahan sang pemenang. Masyarakat juga tentunya akan memberikan apresiasi tersendiri terhadap yang kalah namun bisa menerima kekalahannya. *

~ by isdiyanto on 20 November 2008.

5 Responses to “Hanya Siap Menang, Tak Siap Kalah”

  1. Betul sekali. Ini mungkin karena demokrasi yg kita miliki tidak memiliki konsep yg jelas….
    Atau karena usia reformasi kita masih seumur jagung.

    Jadi gitu deh, ketika kalah langsung mengajukan gugatan ke MK.

    So—Parpol menjamur, caleg apa lagi…
    Huwww… capex deh lihat baleho dimana2.
    Siapa yg mau dipilih?
    Semua minta tolong………
    yeeeeee no coment aja deh. Jadi serba salah.

  2. yah seperti yang baru saja saya obrolin dengan rekan-rekan nongkrong, Politik kita ini masih politik anak TK, ketika kalah langsung angot dan siap-siap bentuk partai baru..hhehe politik balas dendam.. ahh… so romantic….

  3. Politik emang ngga ada habisnya….

  4. Yang gak siap kalah, kemungkinan karena dah ngabisin duit banyak kali ya???…..

  5. berkompetisi terus-menerus untuk menjadi yang paling dicintai rakyat, itu akan lebih langgeng. jadilah pemimpin yg benar2 akan dicintai rakyat untuk se-lama2nya.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: